Di era Digital saat ini membuat generasi sekarang semakin dimanjakan di zona nyaman sebut saja platform media sosial seperti Instagram, facebook dan tiktok menjadi candu generasi yang dibuai dengan drama sosal media. Coba kamu hitung dalam satu hari berapa banyak waktu yang kamu buang hanya untuk menonton drama-drama story di media sosial?
ngomongin soal Generasi Zona nyaman, saya ingat satu lagu yang menjadi Hits fenomenal dari salah satu band favorit saya THE KILLERS yang berjudul HUMAN
Lagu ini sebenarnya sudah banyak menjadi perdebatan dikalangan pecinta musik. Bahkan lagu yang satu ini pernah memuncaki tangga nomor satu lagu teraneh beberapa tahun lalu, berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh Blinkbox Music terhadap 2.000 orang.
Bahkan Brandon Flowers sebagai vokalis The Killers sendiri pun pernah merasa frustasi ketika fans mereka kebingungan dengan lirik “Human”. Sebelumnya Brandon menjelaskan bahwa Ia mengutip Hunter S. Thompson, “We’re raising a generation of dancers” namun penjelasan tersebut nampaknya tak membuat sebuah kejelasan, dengan kesalahan tata bahasa di lagu “Human” juga menambah kebingungan orang-orang.
Pertama, kata-kata “We’re raising a generation of dancers,” tidak tercantum dalam literatur Hunter S. Thompson mana pun, kamu bisa coba mencari semua hasil kerjanya di Google dan beritahu aku jika kamu menemukan kata-kata tersebut jelas ditulis oleh Thompson.
Kedua, aku akan mulai memaknai lagu ini sesuai pendapatku.
Tentu, kamu pun bisa melakukannya.
“I did my best to notice
When the call came down the line
Up to the platform of surrender
I was brought but I was kind”
Bagian ini tampak seperti seseorang yang sedang melakukan pencarian terhadap dirinya sendiri, yang beranjak dewasa dengan berusaha untuk tetap baik, namun seperti kenyataan yang selalu kita terima diakhir usaha; kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita mau. Jadi, kepasrahan lah yang akhirnya datang. Mau tidak mau, karena hidup ini dikelilingi ketidakpastian.
“And sometimes I get nervous
When I see an open door
Close your eyes, clear your heart
Cut the cord”
Bagian kedua ini semakin memperjelas bahwa Brandon Flowers
seolah ingin menunjukan pengalamannya, yang mungkin kita semua juga pernah
mengalaminya. Ya, kebingungan terhadap kehidupan. Kita yang ragu untuk
melangkah ke depan, meski ‘pintu’ telah terbuka, kadang kita sulit melepaskan
jerat masa lalu yang akhirnya memaksa kita untuk berkutik ditempat yang itu-itu
saja. Maka dari itu kita harus membersihkan hati dari segala penyesalan, amarah
dan dendam lalu memejamkan mata dan berpikir jernih; “Cut the cord!” potong
tali itu! Lampaui batas keraguan itu, eksplorasi terhadap kehidupan selalu
menyenangkan ketika kita berhasil menjaga kesadaran bahwa kita hidup dalam
segala ketidaktahuan. Jangan ragu, jangan cemas, apalagi takut. Kita harus
melampaui itu semua, dan langkah pertama adalah kembali menjaga kesadaran,
bahwasannya tidak ada kebenaran absolut, tidak ada sesuatu yang utuh, istilah
selamanya juga tidak pernah ada. Kita bagai kertas kosong, dan kita
‘menuliskan’ hidup dengan pikiran, tapi sayangnya apa yang kita pikirkan bukan
berarti kenyataan. Kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah kita, sederhana dan
apa adanya. Clear your heart, dengan hati dan pikiran yang jernih kita tidak
akan terbebani dengan segala sesuatu yang sebelumnya menjadi keluh kesah.
“Are we human or are we dancer?
My sign is vital, my hands are cold
And I’m on my knees looking for the answer
Are we human or are we dancer?”
Apa itu manusia? Seperti pertanyaan temanku yang
kebingungan, “dancer” juga adalah manusia. Tentu, binatang pun bisa menari.
Tapi kata “WE” dalam lirik tersebut berarti kita, kita, manusia? Atau Dasein
seperti sanggahan Heidegger yang dalam filsafat Jerman disebut destruksi
metafisika? Di bagian ini, aku seketika teringat kepada ‘amanat’ Socrates. Ia
yang semasa hidupnya dulu sering berpesan agar kita terlebih dulu mengenali
diri kita sendiri sebelum mencari tahu ada apa di luar sana. Karena menurut
Socrates, segala persoalan di dunia ini terpendam dalam diri setiap manusia.
Maka dari itu, Ia juga terkenal dengan ‘Socrates Method’, di mana Ia berteriak-teriak
“Gnothi Se Authon” (Kenali dirimu) dipasar-pasar hingga ke kota. Jadi, are we
human? Or are we dancer? Adalah sebuah ajakan untuk lebih mengenal diri kita
sendiri, karena toh dancer yang dimaksud lirik ini pun adalah kita. Tapi,
siapakah ‘kita’ sebenarnya yang menjadi pertanyaan. Tapi tidak perlu
diperdebatkan, karena seperti yang kita tahu, kita adalah ketidaktahuan. Yang
kita ketahui hari ini adalah berawal dari ketidaktahuan, dan setiap dari kita
memiliki jawaban tersendiri, jawaban tersebut bisa dipengaruhi oleh budaya,
keluarga hingga lingkungan sekitar, maka dari itu tidak ada sebuah kepastian
yang absolut. Tapi jika kita sadar bahwa kita tidak tahu, kita tidak akan mudah
terpengaruh oleh berbagai pengetahuan yang berubah-ubah dari kehidupan di masa
lalu dan ilusi dari harapan-harapan masa depan. Karena kita hidup saat ini, di
sini, setiap saat adalah momen baru yang menyenangkan.
“Pay my respects to grace and virtue
Send my condolences to good
Give my regards to soul and romance
They always did the best they could”
Di bagian ini, kembali, Brandon Flowers seolah sedang
menceritakan persoalan yang hampir pernah atau sedang kita lewati dewasa ini.
Kita hidup dalam prasangka. Sebarapa besar usaha kita untuk terlihat ‘baik’
(dalam definisi apa pun) pada akhirnya tetap akan ada orang yang berprasangka
buruk tentang kita, menghakimi seolah mereka lah yang paling benar. Mereka yang
melakukan kejahatan besar, justru, biasanya adalah mereka yang mengaku bermoral
tinggi, perbudakan dan pembunuhan dilakukan dengan ‘cantik’ oleh orang-orang
yang mengaku bertuhan dan bermoral. Namun melawan mereka dengan hal serupa
hanya akan melahirkan kesenjangan, dengan memupuk dendam kita hanya akan
memelihara duka yang akan lahir kemudian hari. Aku ingat salah satu pendapat
Buddhis yang cocok untuk persoalan ini, bahwa orang yang menyimpan dendam dalam
dirinya hanya akan melukai dirinya sendiri bahkan sebelum Ia mampu melukai
orang lain. Maka ucapkan “Terima kasih” kepada mereka yang telah melakukan hal
buruk kepada kita, secara tidak langsung, mereka telah mengajarkan bahwa hal
tersebut tak pantas dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya. Point dari bagian ini (mungkin) dapat
ditemukan dalam bagian selanjutnya.
“And so long to devotion
You taught me everything I know
Wave goodbye, wish me well
You’ve gotta let me go”
Bagian ini mungkin adalah inti dari bagian sebelumnya.
Ucapkan selamat tinggal kepada kepatuhan. Dengan hidup dalam patuh berarti kita
menyerahkan hidup kita diatur oleh pihak atau orang lain, hidup kita berarti
kesadaran dan pikiran kita. Menurut Nagarjuna, kebijaksanaan sejati lahir dari
kesadaran akan kekosongan hidup dan dunia didalamnya. Maka kita harus
melepaskan segala belenggu dalam hidup yang membuat kita enggan keluar dari ‘tempurung’,
bahkan jika belenggu tersebut diciptakan oleh pikiran kita sendiri.
Lepaskanlah. Kebebasan adalah keberanian untuk berubah dan belajar dari
kesalahan yang telah kita atau orang lain lakukan, dan menjaga kesadaran adalah
penting agar kita tidak lagi mengulanginya.
“Will your system be alright
When you dream of home tonight?
There is no message we’re receiving
Let me know, is your heart still beating?”
Kembali, di bagian ini kita dihadapkan dengan kenyataan.
“WE’RE” yang tercantum adalah kita, dan kita tidak menerima jawaban apa pun
dari apa yang kita cari selama ini. Lebih tepatnya, kita sudah mencari tahu,
dan yang kita dapat adalah ketidaktahuan, maka kita kembali bertanya dan
bertanya. Kebingungan. Is your heart still beating? Sepertinya Brandon Flowers
mengajak kita bermain intuisi, karena kita tidak selalu dapat percaya kepada
pikiran kita sendiri. Maka dengan melatih intuisi, kita dapat memahami sesuatu
tanpa konsep rumit. Berbeda dengan pikiran, dengan intuisi kita tidak akan
bertanya “Apa dibalik batu itu ada udang?” namun kita langsung melihat ke balik
batu tersebut dan melihat ada udang di sana. Sederhana. Tanpa konsep.
******
Lirik dari lagu “Human” tetap tidak menghadirkan jawaban objektif, karena setiap dari kita akan menafsirkannya berbeda-beda. Terlepas dari itu semua, berhentilah berpikir untuk beberapa saat. Biarkan dirimu bebas dari segala belenggu yang membuat dirimu seperti seorang ‘dancer’, yang setiap geraknya sudah diatur sedemikian rupa, entah oleh pihak lain di luar dirimu, atau bahkan dibatasi oleh dirimu sendiri. Lagu ini juga banyak melahirkan pertanyaan. Apakah kamu manusia? Siapakah kita? Siapa mereka? Apakah kita hidup sesuai apa yang kita inginkan? Apa mereka hidup sesuai yang mereka ingin? Apakah momen ini akan bertahan selamanya? Apakah kita sudah terbebaskan? Apa itu bebas?
Tapi yang aku tangkap adalah, lagu “Human” ini sederhana.
Seperti hidup kita. Namun semua ini terlihat rumit oleh karena kita sendiri.
Kita yang terperangkap segala pertanyaan dan kebingungan akan dunia. Dan jalan
keluarnya adalah, melepaskan. Kita tidak selalu dapat memaksakan ambisi. Kita
tidak bisa selalu tenggelam oleh sukacita masa lalu, kita tidak bisa terpaku
dengan ilusi-ilusi masa depan. Dengan kesadaran yang tetap dijaga, kita akan
begitu saja menata hidup kita tanpa perlu kebingungan. Bersihkan pikiran, suatu
hari nanti kita akan menjadi bangkai yang dijilati segerombol serangga, maka
dari itu kita harus kembali bertanya, siapakah kita? Bukan tentang menolak
keburukan dan menjadi baik. Tapi menerima kenyataan bahwa kita hidup saat ini,
dengan segala pertanyaan yang jawabannya ada dalam diri kita sendiri, meski
semua itu berakhir disatu titik; tidak tahu garis masa depan seseorang namun
bukan berarti kita terbuai dengan zona nyaman kita dengan berbagai candu drama
sosial media.
