Rabu, 11 Januari 2023

ARE WE HUMAN OR ARE WE DANCER ?

 


Di era Digital saat ini membuat generasi sekarang semakin dimanjakan di zona nyaman sebut saja platform media sosial seperti Instagram, facebook dan tiktok menjadi candu generasi yang dibuai dengan drama sosal media. Coba kamu hitung dalam satu hari berapa banyak waktu yang kamu buang hanya untuk menonton drama-drama story di media sosial?

ngomongin soal Generasi Zona nyaman, saya ingat satu lagu yang menjadi Hits fenomenal dari salah satu band favorit saya THE KILLERS yang berjudul HUMAN

Lagu ini sebenarnya sudah banyak menjadi perdebatan dikalangan pecinta musik. Bahkan lagu yang satu ini pernah memuncaki tangga nomor satu lagu teraneh beberapa tahun lalu, berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh Blinkbox Music terhadap 2.000 orang.

Bahkan Brandon Flowers sebagai vokalis The Killers sendiri pun pernah merasa frustasi ketika fans mereka kebingungan dengan lirik “Human”. Sebelumnya Brandon menjelaskan bahwa Ia mengutip Hunter S. Thompson, “We’re raising a generation of dancers” namun penjelasan tersebut nampaknya tak membuat sebuah kejelasan, dengan kesalahan tata bahasa di lagu “Human” juga menambah kebingungan orang-orang.

Pertama, kata-kata “We’re raising a generation of dancers,” tidak tercantum dalam literatur Hunter S. Thompson mana pun, kamu bisa coba mencari semua hasil kerjanya di Google dan beritahu aku jika kamu menemukan kata-kata tersebut jelas ditulis oleh Thompson.

Kedua, aku akan mulai memaknai lagu ini sesuai pendapatku. Tentu, kamu pun bisa melakukannya.

 

“I did my best to notice

When the call came down the line

Up to the platform of surrender

I was brought but I was kind”


Bagian ini tampak seperti seseorang yang sedang melakukan pencarian terhadap dirinya sendiri, yang beranjak dewasa dengan berusaha untuk tetap baik, namun seperti kenyataan yang selalu kita terima diakhir usaha; kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita mau. Jadi, kepasrahan lah yang akhirnya datang. Mau tidak mau, karena hidup ini dikelilingi ketidakpastian.

“And sometimes I get nervous

When I see an open door

Close your eyes, clear your heart

Cut the cord”

 

Bagian kedua ini semakin memperjelas bahwa Brandon Flowers seolah ingin menunjukan pengalamannya, yang mungkin kita semua juga pernah mengalaminya. Ya, kebingungan terhadap kehidupan. Kita yang ragu untuk melangkah ke depan, meski ‘pintu’ telah terbuka, kadang kita sulit melepaskan jerat masa lalu yang akhirnya memaksa kita untuk berkutik ditempat yang itu-itu saja. Maka dari itu kita harus membersihkan hati dari segala penyesalan, amarah dan dendam lalu memejamkan mata dan berpikir jernih; “Cut the cord!” potong tali itu! Lampaui batas keraguan itu, eksplorasi terhadap kehidupan selalu menyenangkan ketika kita berhasil menjaga kesadaran bahwa kita hidup dalam segala ketidaktahuan. Jangan ragu, jangan cemas, apalagi takut. Kita harus melampaui itu semua, dan langkah pertama adalah kembali menjaga kesadaran, bahwasannya tidak ada kebenaran absolut, tidak ada sesuatu yang utuh, istilah selamanya juga tidak pernah ada. Kita bagai kertas kosong, dan kita ‘menuliskan’ hidup dengan pikiran, tapi sayangnya apa yang kita pikirkan bukan berarti kenyataan. Kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah kita, sederhana dan apa adanya. Clear your heart, dengan hati dan pikiran yang jernih kita tidak akan terbebani dengan segala sesuatu yang sebelumnya menjadi keluh kesah.

 

“Are we human or are we dancer?

My sign is vital, my hands are cold

And I’m on my knees looking for the answer

Are we human or are we dancer?”

Apa itu manusia? Seperti pertanyaan temanku yang kebingungan, “dancer” juga adalah manusia. Tentu, binatang pun bisa menari. Tapi kata “WE” dalam lirik tersebut berarti kita, kita, manusia? Atau Dasein seperti sanggahan Heidegger yang dalam filsafat Jerman disebut destruksi metafisika? Di bagian ini, aku seketika teringat kepada ‘amanat’ Socrates. Ia yang semasa hidupnya dulu sering berpesan agar kita terlebih dulu mengenali diri kita sendiri sebelum mencari tahu ada apa di luar sana. Karena menurut Socrates, segala persoalan di dunia ini terpendam dalam diri setiap manusia. Maka dari itu, Ia juga terkenal dengan ‘Socrates Method’, di mana Ia berteriak-teriak “Gnothi Se Authon” (Kenali dirimu) dipasar-pasar hingga ke kota. Jadi, are we human? Or are we dancer? Adalah sebuah ajakan untuk lebih mengenal diri kita sendiri, karena toh dancer yang dimaksud lirik ini pun adalah kita. Tapi, siapakah ‘kita’ sebenarnya yang menjadi pertanyaan. Tapi tidak perlu diperdebatkan, karena seperti yang kita tahu, kita adalah ketidaktahuan. Yang kita ketahui hari ini adalah berawal dari ketidaktahuan, dan setiap dari kita memiliki jawaban tersendiri, jawaban tersebut bisa dipengaruhi oleh budaya, keluarga hingga lingkungan sekitar, maka dari itu tidak ada sebuah kepastian yang absolut. Tapi jika kita sadar bahwa kita tidak tahu, kita tidak akan mudah terpengaruh oleh berbagai pengetahuan yang berubah-ubah dari kehidupan di masa lalu dan ilusi dari harapan-harapan masa depan. Karena kita hidup saat ini, di sini, setiap saat adalah momen baru yang menyenangkan.

 

“Pay my respects to grace and virtue

Send my condolences to good

Give my regards to soul and romance

They always did the best they could”


Di bagian ini, kembali, Brandon Flowers seolah sedang menceritakan persoalan yang hampir pernah atau sedang kita lewati dewasa ini. Kita hidup dalam prasangka. Sebarapa besar usaha kita untuk terlihat ‘baik’ (dalam definisi apa pun) pada akhirnya tetap akan ada orang yang berprasangka buruk tentang kita, menghakimi seolah mereka lah yang paling benar. Mereka yang melakukan kejahatan besar, justru, biasanya adalah mereka yang mengaku bermoral tinggi, perbudakan dan pembunuhan dilakukan dengan ‘cantik’ oleh orang-orang yang mengaku bertuhan dan bermoral. Namun melawan mereka dengan hal serupa hanya akan melahirkan kesenjangan, dengan memupuk dendam kita hanya akan memelihara duka yang akan lahir kemudian hari. Aku ingat salah satu pendapat Buddhis yang cocok untuk persoalan ini, bahwa orang yang menyimpan dendam dalam dirinya hanya akan melukai dirinya sendiri bahkan sebelum Ia mampu melukai orang lain. Maka ucapkan “Terima kasih” kepada mereka yang telah melakukan hal buruk kepada kita, secara tidak langsung, mereka telah mengajarkan bahwa hal tersebut tak pantas dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya.  Point dari bagian ini (mungkin) dapat ditemukan dalam bagian selanjutnya.

 

“And so long to devotion

You taught me everything I know

Wave goodbye, wish me well

You’ve gotta let me go”

 

Bagian ini mungkin adalah inti dari bagian sebelumnya. Ucapkan selamat tinggal kepada kepatuhan. Dengan hidup dalam patuh berarti kita menyerahkan hidup kita diatur oleh pihak atau orang lain, hidup kita berarti kesadaran dan pikiran kita. Menurut Nagarjuna, kebijaksanaan sejati lahir dari kesadaran akan kekosongan hidup dan dunia didalamnya. Maka kita harus melepaskan segala belenggu dalam hidup yang membuat kita enggan keluar dari ‘tempurung’, bahkan jika belenggu tersebut diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Lepaskanlah. Kebebasan adalah keberanian untuk berubah dan belajar dari kesalahan yang telah kita atau orang lain lakukan, dan menjaga kesadaran adalah penting agar kita tidak lagi mengulanginya.

 

“Will your system be alright

When you dream of home tonight?

There is no message we’re receiving

Let me know, is your heart still beating?”

 

Kembali, di bagian ini kita dihadapkan dengan kenyataan. “WE’RE” yang tercantum adalah kita, dan kita tidak menerima jawaban apa pun dari apa yang kita cari selama ini. Lebih tepatnya, kita sudah mencari tahu, dan yang kita dapat adalah ketidaktahuan, maka kita kembali bertanya dan bertanya. Kebingungan. Is your heart still beating? Sepertinya Brandon Flowers mengajak kita bermain intuisi, karena kita tidak selalu dapat percaya kepada pikiran kita sendiri. Maka dengan melatih intuisi, kita dapat memahami sesuatu tanpa konsep rumit. Berbeda dengan pikiran, dengan intuisi kita tidak akan bertanya “Apa dibalik batu itu ada udang?” namun kita langsung melihat ke balik batu tersebut dan melihat ada udang di sana. Sederhana. Tanpa konsep.

 

******

 

Lirik dari lagu “Human” tetap tidak menghadirkan jawaban objektif, karena setiap dari kita akan menafsirkannya berbeda-beda. Terlepas dari itu semua, berhentilah berpikir untuk beberapa saat. Biarkan dirimu bebas dari segala belenggu yang membuat dirimu seperti seorang ‘dancer’, yang setiap geraknya sudah diatur sedemikian rupa, entah oleh pihak lain di luar dirimu, atau bahkan dibatasi oleh dirimu sendiri. Lagu ini juga banyak melahirkan pertanyaan. Apakah kamu manusia? Siapakah kita? Siapa mereka? Apakah kita hidup sesuai apa yang kita inginkan? Apa mereka hidup sesuai yang mereka ingin? Apakah momen ini akan bertahan selamanya? Apakah kita sudah terbebaskan? Apa itu bebas?

Tapi yang aku tangkap adalah, lagu “Human” ini sederhana. Seperti hidup kita. Namun semua ini terlihat rumit oleh karena kita sendiri. Kita yang terperangkap segala pertanyaan dan kebingungan akan dunia. Dan jalan keluarnya adalah, melepaskan. Kita tidak selalu dapat memaksakan ambisi. Kita tidak bisa selalu tenggelam oleh sukacita masa lalu, kita tidak bisa terpaku dengan ilusi-ilusi masa depan. Dengan kesadaran yang tetap dijaga, kita akan begitu saja menata hidup kita tanpa perlu kebingungan. Bersihkan pikiran, suatu hari nanti kita akan menjadi bangkai yang dijilati segerombol serangga, maka dari itu kita harus kembali bertanya, siapakah kita? Bukan tentang menolak keburukan dan menjadi baik. Tapi menerima kenyataan bahwa kita hidup saat ini, dengan segala pertanyaan yang jawabannya ada dalam diri kita sendiri, meski semua itu berakhir disatu titik; tidak tahu garis masa depan seseorang namun bukan berarti kita terbuai dengan zona nyaman kita dengan berbagai candu drama sosial media. 



Jumat, 10 Desember 2021

SABAR



Sabar itu buah dari menahan diri. Seseorang dikatakan menahan diri jika ada dorongan yang menuntut dia melakukan sesuatu dari dalam dirinya, tapi dia tahan. Artinya, sabar itu aktif. Bukan pasif. Orang yang tidak melakukan reaksi apa-apa karena tidak ada dorongan apapun dari dalam dirinya, maka itu bukan sabar.

Misalnya, seseorang sedang berkendara dan ingin sampai ke tujuan dengan segera. Dia mengharapkan jalan yang lapang, sehingga dapat memacu kendaraanya. Ketika sinyal lampu lalu lintas untuk berjalan telah menyala, ternyata tukang becak di depan dia begitu lambat geraknya.

Keinginan untuk cepat sampai ke tempat tujuan, mendorong dia untuk menekan klakson, memberi isyarat agar tukang becak berlalu dengan segera. Pilihan dia menekan klakson, atau menahan dirinya. Jika dia harus menahan diri, apa alasannya?

Saat itulah kaidah memberikan udzur dapat dipraktekkan. Yakni dengan menumbuhkan empati dalam hati. Dia perhatikan tukang becak itu sudah lanjut usia. Cukup banyak muatan yang diangkutnya. Dia berpikir: bagaimana rasanya dalam posisi seperti itu, tiba-tiba diklakson-klakson dari belakang seakan-akan ia adalah gangguan. Betapa nelangsanya....

Maka dia menahan diri dan memberikan kesempatan tukang becak melewati lampu lalu lintas dengan tenang. Ini di antara contoh gambaran dinamika membangun sikap sabar dalam diri seseorang. Sabar adalah karakter yang bisa ditanamkan dalam diri dengan latihan dan pembiasaan.

Adapun cara paling mudah memotivasi diri untuk bersabar adalah dengan mengetahui keutamaannya, sebagaimana yang Allah jelaskan pada kita: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10). Setelah mengetahui keutamaannya, lalu memohon pada Allah agar kita dijadikan orang yang sabar, semata-mata karena mengharap ridha-Nya.

Sumber : @sahabatsurga

Selasa, 24 November 2020

OBAT PERCAYA DIRI



Pernah ada teman yang sering curhat dan nanya cara PD ngadepin cowok, ya saya bilang aja tipsnya saya gk tau gimana caranya soalnya saya gk pernah jadi cewek Hahahaha, tapi saya coba tulis sedikit tip yang kiranya masuk diakal oke.

Mengatasi rasa malu dan takut untuk menegur cowok idaman kita ternyata nggak sulit kok. Ini dia beberapa caranya.

Tersenyumlah. Mungkin kita merasa panik dan gemetar ketika berhadapan dengannya. Nggak peduli sepanik apa pun kita, percaya, deh, kalau kita akan terlihat pede bila tersenyum. Seandainya dia mengabaikan senyuman itu, tak perlu kecil hati. Anggap saja dia tidak melihatnya.

Berilah tatapan bermakna yang 'menyampaikan' undangan untuk ngobrol dengan kita. Tangkaplah pandangan matanya untuk beberapa saat, dan segeralah memandang ke arah lain.

Berpura-puralah menjatuhkan barang di depannya, atau menabraknya secara tidak sengaja. Kadang tindakan konyol bisa bermanfaat juga, kok!

Gunakan barang-barang yang menarik perhatian, misalnya memakai tas sport dengan warna super mencorong. Pakai rok mini dengan belahan tinggi? Basi, ah! 

Setiap cowok pasti terkesan bila kita memulai pembicaraan lebih dulu. Mulailah dengan hal-hal sederhana, misalnya saat berada di toko kaset, tanyakan kaset apa yang bagus untuk didengarkan. Atau hal-hal lain, seperti film yang lagi ngetop, apa saja yang sifatnya ringan.

Masih malu? Banyak cewek lupa bahwa cowok sebenarnya takut kita tolak. Bayangkan kalau dia adalah orang telah kita kenal sejak lama, sehingga kita yakin dengan segala tindakan dan ucapan kita.

Rasa malu sebenarnya berhubungan dengan masalah psikologis. Ini semua tergantung bagaimana kita mengontrol diri sendiri. Punya rasa percaya diri akan sangat membantu, sehingga rasa malu lebih mudah kita atasi.

Masih nggak yakin? Bercerminlah dan bilang pada diri sendiri bahwa kita mampu, dan tidak perlu malu lagi, dong!

"KERATIF" (KERJA KERAS DAN AKTIF)



Apakah kreativitas itu jatuh dari langit? Adilkah bila kita menganggap seseorang lebih kreatif ketimbang orang lainnya? Menurut beberapa ahli, itu semua non sense!

Memang benar kreativitas itu bakat dan anugerah, tapi tak berarti tak bisa diasah dan dibentuk. Kita sendiri juga bisa menciptakan kreativitas. Begitu pula kamu. Camkan bahwa:

1. Setiap orang bisa menjadi kreatif.

Kamu tak perlu menjadi orang yang sangat spesifik atau unik, apa lagi jenius untuk menjadi kreatif.

2. Kreativitas dapat diekspresikan dalam berbagai pekerjaan dan aspek kehidupan.

Artinya, kamu bisa menciptakan suatu hukum baru, atau cara baru dalam mengisi hidup. Atau menciptakan hal-hal baru, atau alternatif baru dalam memecahkan masalah-masalah klasik.

3. Keluarkan jiwa kanak-kanak kamu.

Ketika kita belia, kita dibimbing oleh intuisi dan perkiraan. Tapi, setelah dewasa, sudah lebih banyak "do's" and "dont's". Beri pendekatakan kekanakan pada setiap proyek, beri kebebasan dan buka pikiran. Berpikirlah secara naif dan karanglah pertanyaan-pertanyaan tolol.

Dulu, ketika pesawat terbang pertama diciptakan, pasti ada pertanyaan-pertanyaan 'tolol' yang tidak mungkin yang dilontarkan penciptanya pada diri sendiri.

4. Katakan 'jangan banyak omong' pada orang dewasa dalam diri kamu.

Kalau akan berkarya, bagian otak yang logis dan dewasa sering menghalangi karena adanya faktor ketidakmungkinan. Jangan dengarkan, teruslah berkarya.

Soalnya, itu akan menekan ide-ide kreatif kamu. Entah itu dalam menulis, melakukan pekerjaan tangan, dan semacamnya.

5. Izinkan diri kamu melakukan kesalahan.

Ada satu langkah dalam kehidupan yang 'menyuruh' orang berbuat salah. Misalnya, mencoba sesuatu yang tidak lazim, dengan tujuan menciptakan sesuatu yang baru. Itu bagus, karena kamu akan belajar dari kesalahan itu, supaya langkah selanjutkan akan lebih baik.

Bayangkan seorang pelukis yang memiliki buku sketsa yang tebal. Pasti dia telah melakukan banyak kesalahan sebelum mencapai gambar yang terbaik.

6. Isi 'baterai kamu.

Pikiran kreatif membutuhkan ide segar, seperti otot membutuhkan makanan. Jadi, lihatlah sekitar kamu. Tontonlah film, datangi toko, museum, atau apa pun yang kamu sukai. Pikiran kamu akan menyerap pelbagai hal, yang mungkin bisa menjadi sumber ide.

7. Cobalah memiliki kegiatan rutin.

Kalau pikiran kamu sedang buntu, beritirahatlah sejenak dan kerjakan sesuatu yang sifatnya rutin. Misalnya, mencuci piring, mandi, bercukur, atau cuma berjalan sekeliling tempat kamu.

Pekerjaan ini akan membuat pikiran pragmatis kamu sibuk, sehingga pikiran yang kekanak-kanakan itu akan muncul tiba-tiba.

8. Tuliskan Ide bagus bisa muncul pada saat-saat tak terduga.

Kalau kamu selalu punya alat tulis, kamu bisa menuliskannya segera supaya kamu tidak lupa. Konon, Paul McCartney menciptakan lagu Yesterday yang legendaris itu ketika bangun tidur. Kalau tak kontan menuliskannya, pasti ide itu keburu lenyap.

Bagi orang-orang Barat sana, yang terbiasa menulis jurnal harian, menulis bukan perkara yang sulit-sulit amat. Ada ahli yang menyarankan agar kamu menulis 3 halaman apa pun setiap pagi.

Katanya, di antara yang nggak-nggak yang kamu tulis, pasti akan ketemu ide bagus. Soalnya, menulis itu bisa merangsang ide.

9. Percaya bahwa kamu bisa melakukannya.

Jangan ragu-ragu ketika memulai sesuatu. Yang penting kamu percayai, kita semua punya kekuatan untuk menjadi kreatif, siapa pun dia adanya. Begitu pula kamu!