Jumat, 10 Desember 2021

SABAR



Sabar itu buah dari menahan diri. Seseorang dikatakan menahan diri jika ada dorongan yang menuntut dia melakukan sesuatu dari dalam dirinya, tapi dia tahan. Artinya, sabar itu aktif. Bukan pasif. Orang yang tidak melakukan reaksi apa-apa karena tidak ada dorongan apapun dari dalam dirinya, maka itu bukan sabar.

Misalnya, seseorang sedang berkendara dan ingin sampai ke tujuan dengan segera. Dia mengharapkan jalan yang lapang, sehingga dapat memacu kendaraanya. Ketika sinyal lampu lalu lintas untuk berjalan telah menyala, ternyata tukang becak di depan dia begitu lambat geraknya.

Keinginan untuk cepat sampai ke tempat tujuan, mendorong dia untuk menekan klakson, memberi isyarat agar tukang becak berlalu dengan segera. Pilihan dia menekan klakson, atau menahan dirinya. Jika dia harus menahan diri, apa alasannya?

Saat itulah kaidah memberikan udzur dapat dipraktekkan. Yakni dengan menumbuhkan empati dalam hati. Dia perhatikan tukang becak itu sudah lanjut usia. Cukup banyak muatan yang diangkutnya. Dia berpikir: bagaimana rasanya dalam posisi seperti itu, tiba-tiba diklakson-klakson dari belakang seakan-akan ia adalah gangguan. Betapa nelangsanya....

Maka dia menahan diri dan memberikan kesempatan tukang becak melewati lampu lalu lintas dengan tenang. Ini di antara contoh gambaran dinamika membangun sikap sabar dalam diri seseorang. Sabar adalah karakter yang bisa ditanamkan dalam diri dengan latihan dan pembiasaan.

Adapun cara paling mudah memotivasi diri untuk bersabar adalah dengan mengetahui keutamaannya, sebagaimana yang Allah jelaskan pada kita: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10). Setelah mengetahui keutamaannya, lalu memohon pada Allah agar kita dijadikan orang yang sabar, semata-mata karena mengharap ridha-Nya.

Sumber : @sahabatsurga

Tidak ada komentar: